Artikel

Penggunaan Bahasa yang Lebih Baik, “Aku” dan “Saya” (Anda Tidak Akan Rugi Apabila Bisa Sedikit Lebih Sopan)

15 Mar, 2015

Berbahasa yang baik dan benar juga merupakan cerminan suatu sopan santun selayaknya orang yang berbudaya. Pengenalan sopan santun ini sangat penting dimulai dari usia dini.

Secara tidak sadar, anak-anak kita, baik di sekolah maupun di rumah telah salah mengartikan penggunaan kata aku secara tidak tepat dan keliru.

Kita harus menyadari bahwa suatu bahasa mempunyai hubungan erat dengan akar budaya dan tata karma dari pengguna bahasa tersebut.

Penggunaan kata aku yang benar adalah untuk menunjukkan keakraban dan hanya dipakai terbatas pada sesama kawan sebaya dan bukan digunakan terhadap lawan bicara yang jauh lebih tua, seperti terhadap guru, orang asing maupun orang tua. Sebagai gantinya, sebaiknya kita menggunakan kata yang lebih sopan, yaitu: saya.

Distorsi bahasa ini telah berlangsung secara tidak disadari baik oleh para orang tua murid ataupun pendidik. Hal ini mungkin karena banyaknya guru-guru kita yang berasal dari daerah tertentu dimana kata aku lebih sering dan umum digunakan di dalam percakapan sehari-hari.

Namun dalam konteks tertentu pengunaan kata aku secara tidak tepat ini dapat merugikan anak-anak kita sendiri. Seperti misalnya, saya menyaksikan sendiri dimana seorang siswa Indonesia dianggap kurang ajar dan tidak sopan saat berbicara dengan seorang pejabat di sebuah kantor pemerintah. Sebetulnya anak ini sama sekali tidak menyadari bahwa yang membuat pejabat itu tersinggung adalah karena dia menggunakan kata aku yang dirasakan sangat tidak sopan oleh Bapak tersebut.

Masih banyak lagi contoh-contoh yang kurang baik yang terjadi tanpa disadari hanya karena penggunaan kata aku yang tidak pada tempatnya.

Oleh karena itu, gunakanlah kata aku (yang lawan katanya adalah engkau atau kamu) hanya terbatas pemakaiannya antara teman sebaya, di dalam puisi, lagu dan untuk kalangan yang dirasa sangat akrab saja dan gunakan kata saya apabila anda berbicara, menulis surat, atau bercakap-cakap dengan orang yang belum/ baru dikenal, kalangan yang lebih tua, guru mapun kepada kedua orang tua kita.

Kepada semua pendidik dan orang tua, marilah kita kembalikan kata saya yang sempat hilang kepada anak-anak didik dan lingkungan kita. (unh)