Artikel

Kiat Penggunaan Telepon Genggam yang Efektif (Handphone, a “Blessing” or a “Curse”)

15 Mar, 2015

Revolusi peralatan komunikasi adalah salah satu bagian yang terpenting dari kehidupan ini. Handphone merupakan suatu sarana yang paling vital dan wajib dibutuhkan oleh hampir setiap orang.

Tujuan murni diciptakannya alat ini adalah untuk memungkinkan komunikasi yang sangat efektif yang tidak terpaku dengan keberadaan sesoarng sehingga kita bisa tetap melakukan komunikasi secara bergerak untuk menghemat waktu, efektifitas dan sangat penting dalam keadaan darurat.

Seperti juga halnya sebuah pisau yang diciptakan bukan untuk digunakan sebagai benda tajam yang membahayakan, tetapi meripakan sebuah alat potong yang mutlak dimiliki oleh setiap rumah tangga. Namun tidak sedikit orang yang menyalah gunakan benda ini sehinggau pisau dianggap lebih banyak bahanyanya daripada manfaatnya. Peristiwa-peristiwa pembajakan pesawat terbang bahkan telah menyebabkan pisau pemotong buah yang sangat kecil pun dianggap membahayakan untuk dapat dibawa masuk ke kabin. Yang lebih parah lagi bahkan gunting kuku juga dianggap salah satu benda tajam sejenis sehingga ikut-ikutan dilarang juga.

Lalu apa hubungan analogi diatas itu dengan handphone?

Handphone jelas diciptakan untuk mempermudah komunikasi karena dengan alat ini tidak ada lagi jarak yang bisa memisahkan karena jarak sudah bukan lagi suatu rintangan di dalam berkomunikasi. Kita sudah tidak lagi bisa membedakan apakah lawan bicara kita itu berada di sebelah ruangan ataukah di luar negeri karena dengan kecanggihan teknologi kualitas suara bisa diterima dengan jernih.

Alat komunikasi digital ini makin hari makin canggih namun kalau kita tidak mengantisipasinya dengan baik dan bijaksana maka benda ini akan lebih banyak membawa masalah daripada kebaikannya.

Kalangan medis masih bergelut dengan argumentasi mereka akan bahayanya efek sampingan radiasi yang dipancarkan oleh gelombang ultrasonic yang karena dekatnya jarak dengan pusat syaraf pada saat kita menggunakan telepon genggam, apalagi dengan durasi yang sangat lama bisa menyebabkan kerusakan pada sel-sel otak yang bisa menimbulkan akibat yang lebih parah, kanker otak.

Dunia transportasi banyak terganggu oleh gangguan-gangguan gelombang pendek yang ditransmisikan oleh orang-orang yang secara tidak sengaja menggunakan telepon genggam mereka pada saat berada di pesawat udara yang bisa menyebabkan akibat yang sangat fatal. Itulah mengapa sebelum pesawat tinggal landas, para awak kabin akan meminta kita untuk mematikannya. Handphone juga wajib dimasukkan ke mesin security X-Ray karena banyak bom plastik yang dibuat dengan bentuk serupa dengan telepon genggam.

Ratusan bahkan ribuan kecelakaan lalu lintas juga banyak disebabkan oleh terpecahnya konsentrasi sesorang yang menggunakan handphone saat menyetir.

Itulah mengapa di negara-negara maju penggunaan handphone tanpa alat pembantu handsfree sambil mengendarai kendaraan dilarang bahkan diancam denda yang cukup besar.

Kalangan spionase juga bisa melacak keberadaan pemilik telepon genggam dengan menggunakan satelit pelacak untuk menyadap bahkan menangkap seseorang.

Banyaknya berita di surat kabar khususnya di Indonesia yang menceritakan betapa banyaknya orang-orang lugu yang sudah begitu mudah ditipu melalui berita yang dikirimkan melalui SMS.

Belum lama ini Perdana Menteri Malaysia terpaksa harus membatalkan keputusan Departemen Agama yang telah memutuskan keabsahan perceraian yang dilakukan melalui kiriman berita pendek (SMS).

Kalangan eksekutif dan professional yang biasanya terlihat tidak pernah terlepas dari alat komunikasi ini hanya menggunakannya sebatas hal-hal yang penting saja dan bahkan mencari yang bentuknya sekecil dan sepraktis mungkin.

Secara tidak sengaja banyak orang yang justru terjebak dengan sifat konsumtif dari benda ini karena untuk sebagian orang alat ini dianggap sebagai simbol dari status sosial sehingga saling berlomba dengan model dan fasilitas.

Banyak orang yang tidak sadar bahwa banyak biaya hidup yang semestinya bisa dihemat tersedot untuk biaya pulsa, pembelian segala macam aksesori pembantu bahkan cicilan pelunasan pembelian kredit untuk handphoneya yang mungkin telah tidak lagi dipakai karena sudah ketinggalan model sebelum cicilannya lunas. Yang lebih parah lagi, dengan segala fasilitas roaming, message bank dll, banyak orang yang terpaksa harus membayar lebih dari yang diperkirakan walaupun jarang menggunakan.

Banyak orang yang tidak sadar dan terjebak dengan tawaran-tawaran muluk para provider yang menawarkan pesawat telepon dengan model baru dengan harga murah bahkan beberapa secara gratis namun di balik itu sang pelanggan akan terikat dengan kontrak layanan yang cukup lama dan mahal. Begitu juga dengan kartu pra bayar diciptakan semain murah namun tetap mempunyai masa pakai yang pendek sehingga secara tidak langsung kita digiring untuk secepatnya menghabiskan pulsa sebelum masa akhir berlakunya kartu tersebut.

Akibatnya kita yang malah menciptakan alasan untuk menelpon sesorang yang sebetulnya hanya ingin menghabiskan pulsa kartu tersebut.

Yang lebih parah adalah budaya pemborosan ini telah berkembang tanpa disadari. Kemudahan hubungan ini bahkan dilakukan anak-anak kecil yang tanpa alasan dan kebutuhan yang penting menelpon orang tuanya dan kawan-kawannya hanya sekedar iseng-iseng tanpa menyadari bahwa mereka telah menambah beban yang tidak semestinya buat pengeluaran keuangan keluarga.

Tidak kurang banyaknya keluarga yang mengeluih kalau biaya rumah tangga yang sebelumnya mencukupi telah membengkak tanpa disadari karena kebiasaan ini.

Di samping itu juga banyak kalangan professional yang tidak menyadari bahwa waktu dan privasi mereka telah secara tidak sadar dilecekan oleh orang-orang yang menelpon mereka hanya sekedar iseng tanpa urusan yang betul-betul penting.

Coba bayangkan seorang professional yang sedang mengikuti sebuah seminar atau rapat penting yang membutuhkan suatu konsentrasi penuh pada pembicara atau peserta rapat, harus menjadi jengah dan memohon maaf karena telepon genggamnya berdering dari anaknya yang iseng-iseng saja menelpon atau dari kawannya yang juga sedang iseng menghabiskan waktu luangnya tanpa menyadari bahwa perbuatannya telah membuat orang lain menjadi malu di hadapan umum. Yang membuat lebih parah lagi karena handphone sekarang banyak memberikan fasilitas dering, dari yang hanya sekedar melodi lagu berbagai irama bahkan bila anda berbakat menjadi seorang komposer bisa mengarang lagi sendiri sehingga bisa menghilangkan simpati orang.

Tanpa suatu disiplin yang tinggi, telepon genggam juga telah menciptakan suatu korupsi waktu yang tidak disadari bagi para pekerja. Seorang sekretaris yan sedang mengetik surat terpaksa harus keluar ruangan agar bisa mendapatkan suara penerimaan yang baik akibat keberadaannya di dalam gedung. Seorang profesional yang sedang mendengarkan lawan bicaranya tiba-tiba harus memutuskan pembicaraan karena telepon genggamnya berdering. Seseorang yang sedang bekerja dengan tuntutan kehati-hatian dan akurasi yang tinggi harus terpecah konsentrasinya, seorang guru atau murid yang sedan berada di kelas, dan masih banyak lagi keadaan-keadaan yang tidak semestinya terjadi, bisa terjadi karena kurang bisa menghargai tingkat emergensi penggunaan hanphone ini.

Sebetulnya kita bisa menghindari semua itu sehingga kita betul-betul bisa menghargai pentingnya alat komunikasi ini dengan suatu disiplin yang tinggi.

Solusinya adalah:

  1. Berikan nomor HP anda hanya kepada orang-orang tertentu yang punya hubungan penting dengan anda.
  2. Berikan nomor kantor anda saja untuk berkomunikasi dan minta tinggalkan pesan apabila anda tidak berada di tempat.
  3. Matikan telepon genggam anda dan kalau perlu ditaruh di tas atau di laci telepon dan hanya menghidupkan saat break atau menerima dan membuka pesan.
  4. Buat akses divert ke nomor kantor agar tetap bis dihubungi untuk hal-hal darurat sehingga kalau perlu anda yang menelpon balik bila ada hal mendesak.
  5. Gunakanlah fasilitas getar dan bukan suara dering atau musik apabila anda mengantongi handphone tersebut.
  6. Yang paling penting dari semuanya adalah tingkatkan disiplin baik diri sendiri ataupun keluarga agar hanya menggunakan handphone dalam kondisi yang betul-betul darurat.

 

Apabila anda bisa melakukan semua hal di atas, maka anda akan bekerja dengan tenang, tidur dengan tenang, biaya hidup lebih rendah dan terbebas dari gangguan privasi, permohonan maaf yang tidak semestinya tanpa harus terisolir dari keuarga, semua urusan ataupun masyarakat.

Coba kita bayangkan; apa jadinya kalau di dalam sebuah ruangan terdapat seratus orang yang masing-masing mengantongi sebuah handphone dan pada saat yang bersamaan semuanya berdering dengan semua suara, melodi dan lagunya? (unh)