Artikel

Biasakan Berkomentar Positif Pada Anak

20 Mar, 2015

Tanpa disadari, kita sebagai orang tua sering memberikan komunikasi negatif terhadap anak.

Sebuah penelitian menemukan bahwa kebanyakan anak merasa bahwa komunikasi yang dilakukan orang tua mereka sebagian besar berisi komplain, perintah, kritik, peringatan, dan kata-kata yang menghilangkan keberanian.

Penelitian-penelitian sosial mengenai komunikasi dalam keluarga berulang kali mengungkapkan fakta bahwa orang tua menghabiskan sedikit sekali waktunya untuk benar-benar berbicara dengan anak-anaknya (rata-rata kurang dari 20 menit sehari). Saat berbicara pun, mereka malah menyampaikan komplain, perintah atau minta bantuan.

Sejalan dengan umur anak, rasio atas komentar negatif terhadap komentar positif justru semakin meningkat dan mencapai puncaknya pada saat umur anak berada di pertengahan atau akhir belasan tahun.

Hasil ini cukup mengagetkan. Tapi bila anda cukup jeli mendengar suara hati anak-anak, mungkin pernah juga Anda mendengar mereka mengungkapkan hal ini : “Satu-satunya saat dimana saya mendengar orang tua saya berbicara, adalah ketika saya melakukan kesalahan atau mengacaukan sesuatu.”

Bila hal ini terus terjadi, bisa dibayangkan betapa jauhnya hubungan orang tua dengan anak. Tetapi sebenarnya interaksi yang menyedihkan ini dapat diubah bila kita mencari cara dan alasan yang lain untuk berkomunikasi dengan anak.

Memang anak-anak banyak membuat kesalahan. Namun sebaiknya focus kita juga harus berubah. Dari sekadar mengingatkan dan menegur mereka dan menjelaskan rasa kecewa kita terhadap mereka, lebih baik kita tunjukkan kepada mereka seberapa besar mereka dicintai dan dihargai.

Bukan berarti kita memberikan pujian palsu karena mereka pasti bisa melihat kebenarannya. Juga bukan berarti kita tidak memberitahu jika mereka melakukan kesalahan. Tapi kita tidak membiarkan mereka berpikir bahwa mereka tidak diperhatikan dan tidak terlihat kecuali saat mereka melakukan sebuah kesalahan atau melakukan hal yang tidak menyenangkan kita.

Lakukanlah percakapan yang sesungguhnya, misalnya dengan menunjukkan minat yang tulus terhadap dunia mereka dan berbagi cerita tentang dunia kita. Tak butuh banyak waktu untuk menyuruh mereka membersihkan kamar atau memberlakukan jam malam.

Sebaliknya butuh waktu untuk menjelaskan bahwa kita tahu semua kebaikan yang mereka perbuat. Misalnya ketika anak 8 tahun menghibur neneknya yang sedang sakit, atau anak 12 tahun mengajari adiknya main basket sepulang sekolah, atau anak 5 tahun yang mengajak adik bayinya tertawa riang.

Komentar-komentar positif terhadap tingkah laku positif anak kita, seharusnya menjadi inti dari komunikasi. Hal ini harus menjadi niat utama kita ketika berbicara dengan mereka.

Memberitahu dan menunjukkan kepada anak betapa kita mencintai dan menghargai diri mereka dapat menjadi kebiasaan sehari-hari. Marilah berusaha untuk melakukannya setiap hari. (2005)